Fauzi Bahar saat diwawancarai wartawan (**)


BUKITTINGGI, Rajoapinews.com– Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat, Fauzi Bahar, mengimbau masyarakat Minangkabau untuk tidak bertindak anarkis menyusul polemik pernyataan pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda yang dinilai menyinggung masyarakat dan agama di Sumatera Barat.


Pernyataan Abu Janda yang disampaikan melalui sebuah video yang direkam di Philadelphia, Amerika Serikat, pada Mei 2026 itu viral di media sosial. Dalam video tersebut, ia menyebut masyarakat dan agama di Sumatera Barat sebagai pihak yang intoleran serta melabelinya sebagai agama yang "bar-bar".


Pernyataan tersebut memicu reaksi dari berbagai kalangan. Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM) kemudian melaporkan Abu Janda ke Bareskrim Polri atas dugaan tindak pidana ujaran kebencian.

Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si ., Datuk Nan Sati (**)


Menanggapi hal itu, Fauzi Bahar mengatakan persoalan tersebut akan diselesaikan melalui jalur hukum dan musyawarah.


"Masalah ini tentu akan dituntut secara hukum dengan bermusyawarah terlebih dahulu untuk menentukan dari sisi mana tuntutan dapat dilakukan," kata Fauzi Bahar di sela kegiatan IMLF di Bukittinggi, Sumatera Barat, Kamis (4/6/2026).


Ia meminta masyarakat Minangkabau di berbagai daerah untuk menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang dapat memperkeruh situasi.


"Kepada keluarga Minangkabau di mana saja berada agar menahan diri dan tidak perlu melakukan tindakan ekstrem terhadap yang bersangkutan. Biarlah proses hukum yang berjalan," ujarnya.


Menurut Fauzi, Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keberagaman budaya dan kekayaan alam, namun tetap bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Karena itu, ia menilai setiap pihak harus menjaga sikap dan menghormati kelompok lain agar tidak menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.


Selain dilaporkan ke Bareskrim Polri, kasus tersebut juga telah dilaporkan ke Polda Sumatera Barat sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.


Fauzi menegaskan masyarakat Minangkabau menjunjung tinggi nilai kebersamaan, kekompakan, serta kehidupan yang damai dan tenteram.


"Ketika kita menghargai orang lain, sesungguhnya kita sedang menghargai diri sendiri. Sebaliknya, ketika menghina orang lain, sesungguhnya kita sedang menghina diri sendiri," kata dia.


(SN)