Rumah Bugis di Bandar Lampung 


BANDAR LAMPUNG, Rajoapinews — Di sudut pesisir Teluk Betung, tepatnya di Kampung Cungkeng, masih berdiri jejak rumah-rumah tradisional Bugis yang menjadi saksi perjalanan para perantau sejak puluhan tahun lalu. Meski banyak yang telah berubah bentuk karena renovasi dan usia bangunan, identitas arsitekturnya belum sepenuhnya hilang.

Rumah-rumah kayu berpanggung dengan detail fasad khas Bugis itu menjadi memori hidup dari sejarah panjang komunitas perantau yang dulu bermukim di kawasan pelabuhan Bandar Lampung. Kini, beberapa bangunan tampak lapuk, sementara lainnya telah tertutup material modern yang mengaburkan bentuk aslinya.

Namun, menurut para pegiat budaya, jejak arsitektur itu masih cukup kuat untuk dibaca dan dipahami.

Dalam wawancara bersama tim, Dwi Eva Lestari, akademisi sekaligus pemerhati arsitektur tradisional, menegaskan bahwa keberadaan rumah-rumah Bugis di pesisir Teluk Betung bukan hanya soal bentuk fisik bangunan, tetapi menjadi bagian dari perjalanan identitas kelompok perantau yang menetap dan beradaptasi dengan lingkungan lokal.

“Setiap tiang, papan, dan ornamen pada rumah Bugis adalah komunikasi lintas generasi. Ia mengajarkan kearifan membangun ruang hidup yang selaras dengan lingkungan tropis dan dinamika sosial masyarakat pesisir,” jelasnya.

Eva menambahkan, pelestarian rumah Bugis tidak serta-merta berarti kembali ke masa lalu. Nilai yang dikandung arsitektur tradisional justru dapat menjadi inspirasi pembangunan kawasan hari ini. Prinsip keberlanjutan, ketahanan struktur terhadap iklim pesisir, dan efisiensi ruang merupakan kearifan lama yang relevan dengan tantangan urban modern.

Seiring perkembangan kota, banyak rumah tradisional di Kampung Cungkeng kehilangan wajah asli. Fasad kayu diganti dengan tembok, ornamen dihilangkan, dan beberapa struktur mulai tidak mampu menanggung beban usia. Di tengah perubahan itu, upaya dokumentasi, visualisasi, dan pengenalan kembali menjadi langkah penting agar identitas arsitektur Bugis tidak benar-benar hilang dari ingatan warga.

Teknologi visual kini memungkinkan bentuk asli rumah Bugis divisualisasikan ulang dengan lebih presisi, sehingga generasi muda dapat melihat bagaimana model rumah tersebut berdiri pada masa awal perantauan.

Pelestarian, menurut Eva, bukan hanya menyelamatkan bangunan tua, tetapi juga menjaga narasi budaya yang pernah hidup dan berkembang di kawasan pesisir Bandar Lampung.

Harapannya, semakin banyak masyarakat mengenal kembali rumah-rumah Bugis ini sebagai bagian dari sejarah urban kota. Bukan semata sebagai objek masa lalu, tetapi sebagai warisan budaya yang dapat memberi arah bagi pengembangan kawasan pesisir yang lebih manusiawi dan berakar pada sejarah komunitasnya.

Penulis:
Rahma Tsabita Solihin

.