Foto: Tim UFDK, Rektor dan Wakil Rektor UFDK Bukittinggi berkunjung ke Monash University, Melbourne Australia.


Bukittinggi - Kampus Universitas Fort de Kock (UFDK) Bukittinggi dinilai memiliki standar konsep sistem kelola pembelajaran (learning management system) yang sama dan terstruktur untuk semua prodi dengan Monash University, Melbourne, Australia khususnya learning management system bidang kesehatan seperti di Monash Medical Center

Kegiatan ini diawali atas kerjasama yang pernah terjalin antara kampus UFDK Bukittinggi dengan Monash University Indonesia sejak tahun 2023. Kerjasama tersebut berlangsung dalam berbagai hal, yang mana sebelumnya Tim Dosen (Lecture) Monash University Indonesia pernah berkunjung ke UFDK Bukittinggi. 

Universitas Fort De Kock melakukan kunjungan kerjasama ke Melbourne Australia sejak tanggal 15 hingga 25 Desember 2025. Kunjungan ini diikuti oleh Pembina Yayasan Bapak Drs. H. Zainal Abidin, MM., Ketua Yayasan Bapak Windasnofil, M.Kes , Rektor Universitas Fort De Kock Prof. Dr. Hj. Evi Hasnita, S.Pd, Ns, M.Kes, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Dr. Nurhayati, SST, M.Biomed, dan Wakil Rektor 3 bidang Kerjasama dan Kemahasiswaan Ns. Ratna Dewi, S.Kep, M.Kep serta Bagian Kerjasama International.

Usai berkunjung dari Australia, Rektor UFDK Bukittinggi, Prof. Dr. Hj. Evi Hasnita, S.Pd, Ns, M.Kes, pada Jumat, 9 Januari 2026, menjelaskan salah satu bentuk kerjasama yang terjalin dengan Monash University yakni bagaimana mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi salah satunya melakukan riset kolaborasi. 

"Tujuan kunjungan ini adalah untuk menjalin kerjasama Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan Universitas di Australia dan menjajaki peluang lulusan UFDK dapat bekerja di Australia terutama lulusan bidang kesehatan. Kunjungan pertama pada tanggal 18 Desember 2025 dengan Monash University Melbourne, tim dari UFDK di terima oleh Tim dari Monash University dan Monash Medical Centre, yakni Prof. Beverley Vollenhoven (Head of Department Obstetrics and Gyan Ecology) dan, As soc. Prof. Megan Wallace (Director of Medical Student Research, Faculty of Medicine, Nursing and Health Sciences), and Dr. Mulyoto Pangestu (Laboratory Manager EPRD, Dept. Obstetrics and Gyan Ecology)," ungkap Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Ibu dan Anak, UFDK Bukittinggi. 


Pada kesempatan itu, lanjut Evi Hasnita, UFDK mendapatkan peluang untuk bekerjasama dalam bidang akademik (Guest Lecturer), pelaksanaan program Double Degree dengan tahapan yang sudah terprogram baik jangka pendek dan jangka panjang, dan adanya peluang untuk kerjasama bidang penelitian antar kedua Universitas dibidang kesehatan serta akan ada join publish dan join funding nantinya. Hasil penelitian di harapkan bisa menjadi dasar untuk perbaikan dan peningkatan status kesehatan di Indonesia terutama kesehatan Ibu dan anak.

Kunjungan ke-2 pada tanggal 19 Desember 2025 dengan Konjen RI di Melbourne. Delegasi Universitas Fort De Kock diterima oleh Konjen KJRI Melbourne Bapak Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo. Diskusi dengan Konjen lebih menitikberatkan kepada bagaimana peluang kerjasama dengan Perguruan Tinggi yang ada di melbourne dan peluang lulusan bekerja di Melbourne. Konjen RI siap mendukung dan membantu agar UFDK dapat menjalin kerjasama internasional lebih luas lagi dengan Perguruan Tinggi yang ada di Melbourne seperti dengan University of Melbourne, RMIT, La Trobe University, Daikin University, dll. Diharapkan ada kunjungan selanjutkan untuk penjajakan kerjasama dengan PT lain dan Implementasi Kerjasama dengan Monash University Melbourne.

Tambah Rektor UFDK Bukittinggi, kunjungan ke-3 dilakukan pertemuan dengan La Trobe University dan Perawat Indonesia yang bekerja di Australia. Delegasi diterima oleh Prof. Lisa Mckenna (Director, Health Profession Clinical Education Unit (HPCEU) La Trobe University) dan 2 orang diaspora yang bekerja sebagai perawat di Australia. 

"La trobe University membuka peluang untuk melaksanakan penelitian bersama bidang Keperawatan, Fisioterapi dan Psikologi dan Prof. Lisa juga bersedia menjadi narasumber dalam seminar International dan menjadi dosen tamu. Pada bulan April 2026 Prof. Lisa dijadwalkan akan datang ke UFDK," ujarnya.

"Untuk peluang bekerja sebagai perawat Iulusan UFDK ke Australia ini sangat mungkin sekali dan ada peluang, hal ini berdasarkan hasil diskusi dengan Ns. Gebi dari Bandung dan RN. Ory dari Payakumbuh yang merupakan lulusan dari Perguruan Tinggi Kesehatan yang ada di Indonesia," terangnya. 

Pada tahun 2000, kata Evi Hasnita, perawat Indonesia dapat langsung bekerja di Australia dengan pengakuan ijazah oleh Australian Health Practioner Regulation Agency (AHPRA), dan langsung bisa mendapatkan gelar RN dengan mengikuti ujian NCLEX. Akan tetapi saat ini untuk menjadi perawat di Australia, wajib lulusan perguruan Tinggi yang ada di Australia selama 2 tahun setelah pendidikan di Indonesia, akan tetapi kendala yang di temukan adalah masalah biaya. 

"Solusi yang diberikan adalah adanya peluang beasiswa dan perawat yang belum dapat gelar RN dapat bekerja sebagai perawat home care atau menjadi supporting nurse/home care sehingga biaya pendidikan dan hidup dapat di tanggulangi. Jadi peluang itu ada, karena secara kurikulum pendidikan perawat di Indonesia dan Australia sama, malah di Indonesia lebih komprehensif, karena ada pendidikan akademik dan profesi. Akan tetapi kemampuan berbahasa Inggris (IELTS 7 bagi mahasiswa dan IELTS 8 bagi pekerja)," katanya. 

"Memang harus dipersiapkan, disamping itu di luar negeri tidak membutuhkan STR, namun yang dibutuhkan adalah kompetensi dan pengakuan international dengan memperoleh gelar RN (Registered Nurse)," terangnya.

Akhir wawancara, Evi Hasnita mengatakan bahwa untuk salary di Australia sangat menjanjikan yaitu perawat dengan gelar RN rata rata dengan gaji 80-100 AUD per jam sedangkan untuk supporting Nurse rata-rata 30-35 AUD per jam. UFDK berkomitmen untuk mempersiapkan lulusan agar dapat menembus pasar international, terkhusus target kerja saat ini adalah negara Australia. InsyaAllah UFDK Bisa. (*)