Foto: Dr. Gusrizal bersama Sekjen Kemenlu RI, Denny Abdi, SE, M.Si dan rekan. 


Sebagai pemerhati pendidikan, saya ikut senang dan merasakan kebahagiaan, dimana ada harapan Perguruan Tinggi kita ke depan akan menjadi kuat apabila dapat bekerjasama. Mengutip apa yang disampaikan oleh Prof. Dr. Mukhamad Najib, Direktur Kelembagaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) yang mengatakan bahwa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) penting untuk bekerja sama guna memperkuat ekosistem pendidikan tinggi nasional.

Lebih lanjut beliau menyebutkan, kolaborasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi, kualitas dan pemerataan kesempatan belajar di seluruh Indonesia. Kita tidak perlu bersaing. Kita punya tugas yang sama PTN dan PTS. Tidak hanya itu, beliau juga menyampaikan, "Bila kita dapat bekerjasama, kita juga bisa mendunia". 

Ada satu lagi yang menarik untuk saya kutip dari pernyataan beliau, di mana beliau menyampaikan perlunya kolaborasi PTS-PTN untuk Perkuat Riset dan Inovasi. Dalam paparannya, Pak Najib menjelaskan bahwa kemitraan antara PTS dan PTN bukan hanya soal kerja sama administratif, tetapi dapat memperkuat kapasitas riset, inovasi, dan teknologi di Indonesia. Ia menekankan bahwa setiap Perguruan Tinggi memiliki keunggulan dan sumber daya yang saling melengkapi. Hal ini beliau sampaikan dalam forum "Urun Rembuk: Masa Depan Perguruan Tinggi Swasta Indonesia" yang digelar di Auditorium Gedung Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, beberapa waktu lalu. 

Prof. Dr. Mukhamad Najib yang saya kenal, merupakan sosok yang tepat menduduki jabatan ini. Sebagai sahabat, saya mengenal beliau sewaktu menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra. Sewaktu masih bertugas, beliau pernah berkunjung ke Sumatera Barat bertemu dengan Bapak Mahyeldi-Gubernur Sumatra Barat dan saya diminta untuk mendampingi beliau waktu itu. 

Dalam kunjungannya tersebut, beliau juga berkesempatan mengunjungi Universitas Fort de Kock (UFDK) Bukittinggi. Dan UFDK merasa terhormat saat dikunjungi beliau. Universitas ini merupakan salah satu Perguruan Tinggi Swasta besar yang sedang giatnya membangun Kolaborasi dan Research dengan berbagai Perguruan Tinggi di dalam dan luar negeri. 

Saya akan terus mengikuti perkembangan Perguruan tinggi terutama yang ada di Sumatera Barat. Saya sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Prof. M. Najib sebagai pemerhati pendidikan, rasanya memang sudah waktunya PTN dan PTS untuk bekerjasama. Bila kita membaca, sekarang sudah hampir tidak terasa yang membedakan Perguruan Tinggi Negeri dengan Perguruan tinggi Swasta. Barangkali yang membedakannya hanyalah dari sisi pembayaran gaji para dosennya saja, dimana sebagai ASN, mereka itu mendapat gaji dari Pemerintah, namun dalam tata kelola antara PTN dan PTS boleh dikatakan sama.

Saya bersyukur, ada orang-orang hebat yang mendukung gagasan saya dalam memajukan pendidikan di dalam dan luar negeri. Belum lama ini saya diterima oleh Bapak Denny Abdi S.E. M.Si di kantor Kementerian Luar Negeri RI. Saat ini, beliau selain menjabat Sekretaris Jenderal di Kementerian Luar Negeri RI Jakarta. 

Beliau juga dipercaya sebagai Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Andalas periode 2025-2029. Banyak hal yang kami bicarakan dalam pertemuan Jakarta. Saya senang beliau mendengarkan dan sekaligus memberikan apresiasi apa yang sudah saya lakukan dalam membangun hubungan bilateral Australia-lndonesia terutama dalam upaya menguatkan pendidikan kita di Sumatera Barat. 

Saya juga menggaris bawahi apa yang beliau sampaikan, bahwa "saat ini pak Dato fokus saja dalam bidang pendidikan, ini yang perlu terus dikuatkan". Makasih Pak Denny sudah menjadi penguat apa yang saya lakukan selama ini dan ini tentu saja menambah energy baru bagi saya. Sebagai pemerhati pendidikan, saya akan tetap konsisten dan fokus di bidang ini. Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan dalam membantu penguatan bidang pendidikan, beberapa diantaranya, pernah membantu UIN Bukittinggi (d/h STAIN Bukittinggi) sebagai salah seorang tim percepatan STAIN menjadi Universitas. 

Saya juga membantu Universitas Muhammadyah dan STIT Ahlussunnah Bukittinggi dalam mendatangkan Pembicara dari Luar Negeri dalam sebuah acara seminar internasional. Sebagai Pengajar BIPA (Bahasa lndonesia bagi Penutur Asing) saya ikut terlibat menggagas berdirinya APPBIPA Cabang Sumbar di Universitas Negeri Padang. Bahkan tidak hanya itu, saya menjadi saksi lahirnya APPBIPA (d/h. APBIPA) yang dibentuk tahun 1999). 

Saya bersyukur, seraya mengucapkan Alhamdulillah, perjalanan panjang saya dalam membangun hubungan Bilateral Indonesia-Australia, itu pula yang menghantarkan saya dapat diterima oleh beberapa Duta Besar Australia di Jakarta. Terakhir saya diterima oleh Bapak Roderick Brazier - Duta Besar Australia bertempat di Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Turut hadir dalam pertemuan tersebut, Prof. Dr. Evi Hasnita - Rektor Universitas Fort de Kock (UFDK). Sebagai pemerhati pendidikan, saya ikut senang menyaksikan UFDK sudah tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat. Sesuai dengan VISI dan MISI Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi yang menjadikan Pendidikan sebagai salah satu unggulannya. 

Saya sangat berharap UFDK dapat menjadi kebanggaan dan asset bagi Pemerintah Daerah Kota Bukittinggi. Dengan jumlah siswanya yang sudah ribuan saat ini, keberadaan mereka tentu saja akan memberikan "Multiplayer effect" dan sudah pasti ini akan dapat meningkatkan sektor ekonomi masyarakat.


*) Dr. Gusrizal Salubuak Basa

Pemerhati Pendidikan, Pengajar Bahasa lndonesia di Australia serta Penghubung Pemerintah Australia di Sumatera Barat.