AGAM – Hujan deras yang mengguyur sejak Jumat, 22 November hingga Jumat, 28 November 2025, membuat Tilatang Kamang, Kamang Magek, dan Palupuh—wilayah yang dikenal sebagai Tilatang Kamang Lamo—berada dalam situasi darurat tanpa jeda. Langit seolah tak memberi ruang bagi warga untuk bernapas. Hari-hari berganti dengan suara hujan, deru angin, dan berita tentang longsor yang datang silih berganti.
Di banyak titik, tanah yang tak lagi kuat menahan air meluncur deras, menghantam rumah-rumah semi permanen hingga amblas ke dasar jurang. Di pinggang bukit, rumah warga remuk diterjang material longsor. Jalan nasional dan jalan nagari terputus, lampu-lampu padam, dan malam berubah menjadi gelap pekat. Anak-anak menangis dalam pelukan ibu mereka, sementara warga dewasa hanya bisa berjaga dengan rasa cemas yang sulit digambarkan.
Di Kecamatan Palupuh, situasinya lebih mencekam. Material kayu dan batu bercampur lumpur menghantam pemukiman dengan kekuatan yang tak tertahan. Sebagian warga tak sempat menyelamatkan harta benda. Beberapa kehilangan tempat tinggal. Sebagian lainnya kehilangan anggota keluarga.
Sementara itu, banjir dan banjir bandang memperburuk keadaan. Sawah-sawah terendam, jembatan putus, aktivitas ekonomi lumpuh total. Di banyak nagari, warga bertahan dengan bantuan seadanya.
“Ini darurat kemanusiaan”
Melihat kondisi ini, Anggota DPRD Kabupaten Agam dari Dapil III, Syafril, SE Dt. Rajo Api, menyampaikan keprihatinan mendalam. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa dibiarkan menghadapi situasi berat ini sendirian.
“Kondisi ini sudah di luar kemampuan masyarakat setempat. Saya mohon masyarakat dan Perantau segera turun tangan. Kita butuh dukungan cepat, baik logistik, alat berat, maupun penanganan darurat. Banyak warga sudah mengungsi, banyak akses vital terputus. Ini darurat kemanusiaan, bukan lagi bencana biasa, ” ujar Syafril.
Ia menuturkan, sejak cuaca ekstrem melanda, jumlah titik longsor terus bertambah tiap hari. “Tanah masih labil. Warga ketakutan tiap malam, karena suara runtuhan dari bukit bisa terjadi kapan saja.”
Di pos-pos penampungan, para ibu menenangkan anak-anak mereka yang masih trauma. Sementara relawan, aparat kepolisian, TNI, pemerintah kecamatan dan nagari bekerja hampir tanpa tidur. Mereka menembus hujan, mengevakuasi warga yang terjebak, menyalurkan logistik, dan memastikan informasi darurat tetap mengalir.
Solidaritas yang tak padam
Di tengah situasi genting itu, secercah harapan muncul. Para tokoh masyarakat dan tokoh perantau Tilatang Kamang Lamo bergerak cepat.
Nama-nama seperti Ridwan Syarif Pangulu Sutan, Adler Rustam Dt. Madjo Indo, Khairul Huda St. Sari Alam, Soni Raimon, Yufrizal, Zul Kulifah, dan sejumlah tokoh lainnya, mulai menginisiasi penggalangan dana dan bantuan kebutuhan mendesak.
Syafril menyebut, panitia telah dibentuk dan beberapa posko bencana akan didirikan di tiga kecamatan terdampak. “Alhamdulillah, semuanya sudah mulai bergerak. Dana sudah mulai terkumpul, list sumbangan sedang berjalan. Posko-posko akan kita siapkan sebagai pusat koordinasi agar bantuan tersalur cepat dan tepat,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh masyarakat dan perantau Tilatang Kamang Lamo untuk ikut meringankan beban sesama.
“Mohon sisihkan sebagian rezeki melalui rekening dan posko yang tersedia. Bantuan juga dapat berupa barang, pakaian, selimut, makanan, hingga peralatan dapur. Sekecil apa pun bantuan itu sangat berarti bagi saudara-saudara kita yang sedang diuji,” tutupnya.
Di balik badai yang belum mereda, semangat gotong royong masyarakat justru menyala lebih terang. Tilatang Kamang Lamo sedang menghadapi ujian berat—namun tidak sendiri. Solidaritas menjadi pegangan paling kuat, harapan yang tersisa, dan alasan bagi banyak warga untuk percaya bahwa mereka akan bangkit kembali bersama-sama.(RA)

Tidak ada komentar
Posting Komentar